Fakta Harga Tes PCR Swab Corona Dipatok Rp 900.000, Termasuk Waktu Mulai Berlaku

Fakta Harga Tes PCR Swab Corona Dipatok Rp 900.000, Termasuk Waktu Mulai Berlaku
October 5, 2020 No Comments DINAMIKA NEWS dinamika

Pemerintah segera menetapkan batas atas harga tes PCR swab corona menjadi hanya Rp 900.000. Saat ini, harga tes PCR swab bisa mencapai jutaan.

Hal ini diungkapkan oleh Ketua Komite Kebijakan Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (PCPEN), Airlangga Hartarto. Adapun, penetapan ini dilakukan sesuai dengan rekomendasi Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP).

Airlangga bilang, Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto menyampaikan hal ini dalam rapat bersama anggota KPCPEN. “Kemenkes menyampaikan, berdasarkan rekomendasi BPKP, untuk pengetesan swab melalui PCR harga ditentukan maksimal Rp 900.000,” ujar Airlangga.

Berikut merdeka.com akan mengungkap sejumlah fakta yang perlu pembaca tahu. Termasuk salah satunya kapan kebijakan ini mulai berlaku. Selamat membaca.

1. Kapan Mulai Berlaku?

Airlangga melanjutkan, pihak BPKP juga akan mengumumkan keputusan ini. Selepas itu, menkes akan segera membuat surat edaran perihal batasan harga ini. “Sesudah diumumkan BPKP, Pak Menkes akan membuat surat edaran,” jelasnya.

Sebelumnya, BPKP memberikan usulan harga tes swab dari rentang Rp 400.000 hingga Rp 700.000.

“Kami sampaikan bahwa BPKP telah memberikan estimasi harga untuk yang sifatnya kontraktual itu sebesar Rp 439.000 per spesimen. Sementara yang mandiri Rp 797.000,” kata Ketua Satgas Penanganan Covid-19, Doni Monardo dalam keterangan pers pada Senin, 28 September lalu.

2. Penyebab PCR Mahal

Direktur Jenderal Pelayanan Kesehatan dan Rujukan Kementerian Kesehatan, Bambang Wibowo, menjelaskan penyebab mahalnya biaya penanganan pasien terjangkit virus corona. Salah satunya harga PCR karena berkaitan dengan investasi prasarana laboratorium.

“PCR cukup mahal karena investasi ini terkait prasarana karena laboratorium harus standar biosafety level 2, itu salah satu yang bikin mahal,” kata Bambang.

Selain itu, harga reagen PCR juga terbilang mahal. Untuk satu kali pengetesan diperlukan satu reagen seharga Rp800.000 sampai Rp1 juta.

Itu pun belum termasuk alat-alat lainnya dalam pemeriksaan Covid-19. Sehingga diperkirakan total pengeluaran yang dikeluarkan untuk satu kali pemeriksaan sebesar Rp1,2 juta.

“Kira-kira cost-nya sekitar Rp1,2 juta. Itu yang menyebabkan harganya relatif mahal,” kata Bambang.

3. Penyelenggara Tes Swasta Lebih Mahal

Direktur Jenderal Pelayanan Kesehatan dan Rujukan Kementerian Kesehatan, Bambang Wibowo, memperkirakan total pengeluaran yang dikeluarkan untuk satu kali pemeriksaan sebesar Rp1,2 juta.

Bambang menambahkan jumlah tersebut akan berbeda jika dilakukan di rumah sakit swasta. Sebab, selain soal investasi modal, ada perhitungan margin yang membuat tarifnya lebih tinggi dari milik pemerintah yang berkisar di angka Rp1 juta – Rp1,2 juta.

“Kalau di rumah sakit swasta terkait dengan investasi modal dan ada margin tapi untuk fasilitas dari pemerintah sekitar Rp1 juta sampai Rp1,2 juta,” kata Bambang mengakhiri.

4. Indonesia Baru Mampu Produksi 1,5 Juta Alat Tes PCR, Sisanya Impor

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan meminta Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) dan Bio Farma segera memproduksi alat tes PCR dan tes cepat (rapid test kit) untuk memenuhi kebutuhan pemeriksaan dalam negeri. Sejauh ini Indonesia telah mampu 1,5 juta alat tes PCR per bulan.

“Sekarang kita lihat BPPT dan Bio Farma untuk menyusun list (daftar) apa saja yang dibutuhkan dan impor produk apa saja yang kita batasi,” katanya.

Menko Luhut menegaskan agar kapasitas produksi domestik dapat terserap terlebih dahulu dan impor bisa dilakukan bila produksi dalam negeri tidak mencukupi. “Oleh karena itu nanti BUMN kita dorong untuk membantu investasi dalam bidang ini,” katanya.

5. Produksi Alat Tes PCR Dalam Negeri Bisa Naik Menjadi 3,5 Juta per Bulan

Menko Luhut yang juga Wakil Ketua Komite Kebijakan Pengendalian COVID-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional itu menyebutkan alat tes PCR Bio Farma sudah bisa diproduksi 1,5 juta dan bisa naik 3,5 juta per bulan.

“Tapi yang betul-betul mesti diperhatikan adalah stok reagennya. Reagen ini saya minta Pak Honesti (Dirut Bio Farma) untuk juga produksi dalam negeri. Produksi dalam negeri masih terbatas, sekarang bagaimana kita tingkatkan kapasitas itu,” ujar Menko Luhut.

Reagen diperlukan untuk ekstraksi yang digunakan dalam pengecekan spesimen. Reagen berisi sejumlah senyawa kimia untuk mendeteksi SARS-CoV-2, virus penyebab penyakit COVID-19.

6. Harga Swab PCR Turun, Masyarakat Diharap Bisa Lebih Banyak Tes

Anggota Komisi IX DPR RI, Saleh Daulay, mendukung pemerintah menetapkan harga maksimal tes usap (swab test) sebesar Rp 900 ribu. Menurutnya, dengan penetapan harga secara nasional diharapkan semakin banyak tes Covid-19 dilakukan.

“Swab test ini kan sangat penting. Masyarakat dianjurkan untuk melaksanakan tes minimal sekali dua minggu. Jika harganya mahal, tentu masyarakat akan kesulitan,” ujar Saleh.

Saleh mengusulkan pemerintah memberikan subsidi swab test kepada golongan menengah ke bawah. Sebab harga Rp900 ribu sekali pemeriksaan masih dianggap terlalu tinggi bagi masyarakat ekonomi menengah ke bawah.

“Bagi masyarakat yang kemampuan ekonominya lemah, diharapkan tetap dapat melakukan swab test. Namun, biayanya disubsidi pemerintah. Kalau masyarakat menengah ke bawah dibebani dengan harga swab test sebesar 900 ribu, tentu mereka akan kesulitan. Karena itu, perlu anggaran negara untuk membantu mereka,” ucap Plh Ketua Fraksi PAN DPR RI ini.

Smber; https://www.merdeka.com/uang/fakta-harga-tes-pcr-swab-corona-dipatok-rp-900000-termasuk-waktu-mulai-berlaku.html