Haji 2020 Digelar Terbatas, Protokolnya Ampuh Bendung Corona COVID-19?

Haji 2020 Digelar Terbatas, Protokolnya Ampuh Bendung Corona COVID-19?
June 25, 2020 No Comments DINAMIKA NEWS dinamika

Telah diputuskan bahwa haji tahun ini (1441 H / 2020 M) akan dilaksanakan dengan jumlah sangat terbatas oleh jemaah dari berbagai negara yang sudah bertempat tinggal di Arab Saudi.

Sebuah keputusan yang telah ditunggu-tunggu seluruh umat Muslim dunia itu akhirnya dikeluarkan pemerintah Arab Saudi. Keputusan ini menandai pertama kalinya dalam sejarah modern Arab Saudi: umat Muslim yang kini berada di luar negeri tak diizinkan melakukan ibadah haji.

Keputusan tersebut juga muncul setelah beberapa negara Muslim memilih untuk meniadakan pemberangkatan haji 2020, salah satunya Indonesia. 

Kementerian Haji Arab Saudi mengatakan, “Keputusan ini diambil untuk memastikan bahwa ibadah haji dilakukan dengan cara yang aman dalam perspektif kesehatan masyarakat … dan sesuai dengan ajaran Islam.”

Selain membatasi jumlah jemaah dan tak mengizinkan kedatangan umat Muslim yang kini berada di luar Arab Saudi, negara kerajaan itu juga akan menyelenggarakan ibadah haji dengan sejumlah protokol terkait pencegahan penyebaran Virus Corona COVID-19.

Kini Arab Saudi tengah berjuang menahan lonjakan besar dalam kasus infeksi COVID-19, yang telah meningkat menjadi 161.000 kasus positif dengan lebih dari 1.300 kematian. Meski demikian, Arab Saudi pada Minggu 21 Juni, telah memutuskan mengakhiri jam malam yang diberlakukan di tengah pandemi. Pembatasan terhadap sektor bisnis, termasuk bioskop dan tempat hiburan lainnya, juga telah dicabut.

“Arab Saudi akan menegakkan sejumlah langkah kesehatan dan protokol untuk umat Islam yang melakukan ibadah haji dalam upaya mencegah penyebaran Virus Corona COVID-19 yang mematikan,” ujar Menteri Kesehatan Kerajaan Dr. Tawfiq al-Rabiah, dikutip dari Al Arabiya, Rabu (24/6/2020).

Ibadah haji merupakan salah satu dari lima rukun Islam. Karena itu, setiap tahun, sekitar 2,5 juta Muslim mengunjungi situs-situs Islam paling suci di Makkah dan Madinah.

Namun, bila jumlah serupa diterapkan pada ibadah Haji 2020, dikhawatirkan bisa menjadikannya tempat berkembang biak baru bagi Virus Corona COVID-19. Untuk mencegah penyebaran SARS-CoV-2 di antara para jemaah, Kementerian Kesehatan Arab Saudi, bekerja sama dengan Kementerian Haji dan Umrah, mengembangkan rencana untuk memastikan keamanan jemaah.

“Kami bekerja dengan Kementerian Kesehatan Arab Saudi untuk mengembangkan langkah-langkah dan protokol pencegahan yang diperlukan untuk memastikan musim haji yang aman,” kata Menteri Haji dan Umrah Muhammad Saleh Benten.

Berikut ini sejumlah protokol yang diterapkan Arab Saudi pada jemaah Haji 2020 yang diharapkan ampuh membendung penularan Virus Corona COVID-19:

  1. Jumlah Muslim yang diizinkan untuk melakukan haji mendatang mungkin sekitar 1.000 orang saja.
  2. Semua jemaah akan dites Virus Corona COVID-19 sebelum mereka mencapai situs suci.
  3. Hanya Muslim di bawah usia 65 tahun yang akan diizinkan untuk melakukan haji tahun ini.
  4. Semua jemaah akan diminta untuk mengkarantina diri setelah mereka menyelesaikan ritual haji.
  5. Semua pekerja dan relawan akan dites Virus Corona COVID-19 sebelum ibadah haji dimulai.
  6. Status kesehatan semua jemaah akan dipantau setiap hari.
  7. Rumah sakit telah disiapkan untuk keadaan darurat yang terjadi selama ibadah.
  8. Langkah-langkah jarak sosial akan ditegakkan.

Pengumuman untuk mengadakan haji terbatas ini dinilai akan mengecewakan jutaan umat Muslim di seluruh dunia. Sebab, para jemaah kerap menginvestasikan sebagian besar tabungan mereka bahkan harus sabar menanti daftar tunggu yang panjang untuk melakukan ibadah haji.

Meski begitu, keputusan ini menjadi angin segar bagi para jemaah domestik yang khawatir ibadah tahunan itu akan dibatalkan secara keseluruhan.

“Arab Saudi telah memilih opsi teraman yang memungkinkan menyelamatkan nama baiknya di dunia Muslim sambil memastikan bahwa mereka tidak dipandang berkompromi soal kesehatan masyarakat,” kata Umar Karim, seorang pengamat dari Royal United Services Institute di London, kepada AFP.

“Tapi ada banyak pertanyaan yang tidak terjawab: Berapa jumlah Jemaah haji yang akan diizinkan? Apa kriteria pemilihan mereka? Berapa banyak warga Saudi dan berapa banyak warga non-Saudi?”

Di sisi lain, ibadah haji “sangat terbatas” ini akan membuat Arab Saudi rugi besar. Padahal negara kerajaan tersebut telah terguncang dua hal, yaitu pelambatan ekonomi yang disebabkan oleh virus dan anjloknya harga minyak dunia.

Selain ibadah haji yang kini terbatas, sebelumnya pemerintah Arab Saudi juga telah menangguhkan ibadah umrah sejak bulan Maret lalu. Diketahui kedua ibadah ini berhasil menambah pemasukan ke ekonomi Arab Saudi sebesar US$ 12 miliar (setara dengan Rp 170 triliun) setiap tahun, demikian menurut data pemerintah.

“Ini merupakan tahun yang sangat sulit, dengan Arab Saudi menghadapi penuruan pendapatan dari semua sektor – minyak, pariwisata, konsumsi domestik, dan sekarang umrah dan haji,” kata Karen Young, seorang sarjana di American Enterprise Institute.

Haji dengan skala penuh dengan jutaan jemaah memang tampaknya tidak mungkin dilakukan, apalagi setelah pihak berwenang menyarankan warga Muslim pada akhir Maret lalu untuk menunda persiapannya karena wabah COVID-19 yang menyebar cepat dan belum terbendung.

Awal bulan ini, Indonesia, negara dengan penduduk Muslim terbesar di dunia, menjadi salah satu negara pertama yang memutuskan meniadakan pemberangkatan ibadah haji di tahun ini. Malaysia, Senegal, dan Singapura pun mengikuti dengan mengeluarkan pengumuman serupa.

“Keputusan Saudi sejalan dengan dasar pembatalan keberangkatan jemaah Indonesia yang diumumkan 2 Juni lalu, yaitu keselamatan jemaah haji,” ungkap Menteri Agama RI Fachrul Razi. 

Juru Bicara Kementerian Agama RI Fathurahman mengapresiasi keputusan haji terbatas yang dipilih pemerintah Arab Saudi. Keputusan itu menurutnya sejalan dengan langkah yang diambil Kementerian Agama RI.

“Saya kira enggak ada lega atau tidak lega, karena ini kebijakan dari Saudi dan siapa pun tak bisa intervensi, jadi kita apresiasi saja,” ujarnya kepada Liputan6.com

Sejak awal, jelas dia, secara substantif keputusan Kemenag untuk meniadakan pemberangkatan Haji 2020 sudah berdasarkan pertimbangan kajian yang matang. 

“Jadi sebetulnya, baik kemarin dan sekarang (setelah ada keputusan Arab Saudi), kami tetap keyakinan bahwa keputusan Kemenang adalah yang terbaik.”

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *