Jungle Land dan bisnis wahana taman wisata yang sempoyongan terhantam Covid-19

Jungle Land dan bisnis wahana taman wisata yang sempoyongan terhantam Covid-19
September 28, 2020 No Comments DINAMIKA NEWS dinamika

JAKARTA. Beberapa hari ini, lini masa sempat menghangat setelah instagram pesohor Nia Ramadhani dihujani komentar bernada miring tentang keluhan belum dibayarnya gaji karyawan Jungle Land selama enam bulan.

Nia merupakan istri dari Anindra Ardiansyah Bakrie alias Ardi Bakrie, generasi ketiga penerus bisnis Bakrie Grup. Sementara Jungle Land merupakan taman wisata dan hiburan di bawah PT Graha Andrasentra Propertindo Tbk (JGLE), bagian dari Grup Bakrie.

Kisah getir karyawan Jungle Land merupakan gambaran dari kondisi bisnis wahana taman wisata dan hiburan yang sedang sempoyongan terhantam pandemi covid-19. Gaji yang belum dibayar hingga gelombang Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) membayangi industri pariwisata.

Menurut Ketua Bali Tourism Board (BTB) atau Gabungan Industri Pariwisata Indonesia (GIPI) Bali Ida Bagus Agung Partha Adnyana, pada masa pandemi ini, kedatangan wisatawan anjlok hingga 99% dibanding kondisi normal. Situasi itu juga menjadi gambaran ambruknya bisnis wahana taman wisata dan hiburan di seluruh Indonesia.

Bahkan kata Agung, di tengah sepinya pengunjung, pelaku usaha lebih memilih tutup ketimbang membuka usahanya. Alhasil, keuangan perusahaan rontok parah. Secara umum, Agung menaksir kemampuan keuangan perusahaan pariwisata hanya mampu bertahan hingga bulan Agustus lalu.

“Sangat berdampak, kekuatan keuangan pengusaha hanya sampai Agustus. Situasi seperti ini pengusaha lebih baik tutup dibandingkan buka,” sebut Agung saat dihubungi Kontan.co.id, Minggu (27/9).

Kondisi ini diproyeksi bakal terus bertahan, dan bisa bertambah parah sebelum ditemukannya vaksin dan pandemi covid-19 bisa teratasi. Dalam kurun waktu itu, Agung menyebut bahwa bantuan dari pemerintah akan sangat membantu pelaku usaha dalam mengurangi bebannya. “Sebelum ada vaksin yang pasti, dan dana pinjaman dari pemerintah, akan sulit buat pengusaha untuk bangkit,” sambungnya.

Dihubungi terpisah, Manager Marketing & Public Relation Jatim Park Group Titik S. Ariyanto mengamini bahwa pelaku usaha wahana wisata dan hiburan berada dalam masa yang suram. Titik menyampaikan, Jatim Park (JTP) Group ditutup serentak sejak 20 Maret 2020 lalu. Hingga kini, belum semua wahana bisa dibuka.

Asal tahu saja, Jatim Park memiliki 15 park di delapan lokasi. Beberapa wahana mulai dibuka secara bertahap sejak 27 Juni dan pada 3 Oktober 2020 nanti ditargetkan semua wahana sudah bisa dibuka.

Kata Titik, manajemen taman hiburan dihadapkan pada posisi yang sulit. Sebab meski kembali dibuka, jumlah pengunjung masih sangat terbatas dan pelayanan sebagian besar wahana masih dibatasi pada Sabtu-Minggu saja.

“Batasan jumlah pengunjung setiap hari pun masih jauh dari target. Meskipun per 3 Oktober nanti semua park di bawah naungan JTP group sudah beroperasi semua, tetapi masih jauh dari target,” kata Titik.

Meski tak membeberkan secara rinci, tapi Titik memberikan gambaran bahwa di masa normal, jumlah pengunjung Jatim Park 2 bisa mencapai 1.000-1.500 orang per hari. Saat ini, jumlah pengunjung hanya berkisar 150-200 orang.

Alhasil, sepinya jumlah pengunjung berdampak terhadap pemasukan atau kinerja keuangan, serta penempatan karyawan. Titik menjelaskan, Jatim Park memiliki sejumlah wahana satwa, yang mau tidak mau tetap membutuhkan biaya operasional yang tinggi karena harus ada pemeliharaan, kebersihan lingkungan dan juga pelatihan. “Kebun binatang kan butuh pakan terus, meski nggak ada pengunjung, nggak ada income. (Meski wahana dibuka), tetap nggak menutup (biaya operasional),” imbuh Titik.

Dari segi jumlah karyawan, dia tak menampik adanya penyesuaian. Sebab, jumlah pengunjung akan menentukan seberapa banyak karyawan yang diperlukan. Sebagai contoh, di masa normal, Jatim Park membutuhkan hingga enam kasir, tapi saat ini hanya dua kasir saja. “(Petugas) di pintu masuk sekarang cuma dua orang, dulu 6-8 orang. Jadi karyawan saat ini setiap hari dipekerjakan sesuai kebutuhan. Kita benar-benar efektif dan efisien,” sebut Titik.

Dalam sebulan, karyawan tetap di Jatim Park kini hanya bekerja maksimal 15 hari. Akibatnya, efisiensi karyawan menjadi kebijakan yang dipilih perusahaan. “Tentu kami ada evaluasi mengenai karyawan. Karyawan yang kontraknya habis saat kami tutup, kami selesaikan. Selain itu kami juga menawarkan pensiun dini, dan mempekerjakan karyawan sesuai kebutuhan park dengan sistem casual atau harian,” kata Titik.

Terpisah, Direktur Program Indef Esther Sri Astuti berpandangan bahwa suramnya sektor pariwisata akan terus berlanjut hingga vaksin ditemukan. Sebab tak hanya persoalan daya beli, sepinya pariwisata juga dikarenakan masyarakat yang membatasi mobilitasnya “Selama vaksin belum ditemukan, jangan harap pariwisata dan perekonomian akan pulih,” kata Esther.

Merujuk pada organisasi pariwisata dunia alias United Nation World Tourism Organization (UNWTO), ada tiga skenario penurunan volume kedatangan wisatawan akibat pandemi covid-19. Pertama, skenario optimistis dengan kunjungan jumlah wisatawan turun sekitar 58%. Kedua, skenario medium dengan kunjungan jumlah wisatawan turun sekitar 70%, dan ketiga, skenario pesimistis dengan  kunjungan jumlah wisatawan turun sekitar 78%.

Menurut Eshter, dampak terhadap pariwisata di Indonesia masih perlu dianalisis lebih lanjut. Namun, merujuk pada data dari Kementerian Pariwisata, kunjungan wisatawan mancanegara ke Indonesia melalui seluruh pintu masuk bulan Juli 2020  berjumlah 159.763 kunjungan atau mengalami penurunan sebesar 89,12% dibandingkan bulan Juli 2019 yang berjumlah 1.468.173 kunjungan.

Dalam kondisi seperti ini, Esther mengatakan pelaku usaha biasanya menjalankan strategi efisiensi di segala lini bisnis, pemotongan gaji hingga PHK, dengan dalih untuk tetap bisa bertahan. “Itu memang biasanya dilakukan mereka agar bisa bertahan, agar tidak bangkrut,” imbuhnya.

Namun, Esther menegaskan bahwa para karyawan dilindungi hak-haknya oleh undang-undang sehingga kewajiban perusahaan harus tetap ditunaikan. “Jadi tetap harus dipenuhi bagaimana pun caranya,” pungkas Esther.

Sumber; https://industri.kontan.co.id/news/jungle-land-dan-bisnis-wahana-taman-wisata-yang-sempoyongan-terhantam-covid-19